|
Home >> Sejarah Minahasa >> Sejarah Garis Waktu
Sejarah Garis Waktu
Disusun oleh: Roderick C. Wahr
1673
Belanda memapankan pengaruhnya di Sulawesi-Utara dan merubah benteng tua dengan bangunan permanen dari beton. Benteng ini memperoleh nama baru, ‘Ford Amsterdam‚’ dan diresmikan oleh Gubernur VOC dari Ternate, Cornelis Francx‚ pada 14 Juli (Benteng tersebut terletak dikota Manado, dibongkar oleh Walikota Manado pada 1949 - 1950).
1677
Belanda mengeluarkan Portugis dari Manado dan menduduki tempat tersebut sebagai ibu kota dari salah satu daerah dibawah pemerintahan Maluku.
Belanda menduduki Pulau Sangir.
1679
Gubernur Belanda dari Moluccas, Robertus Padtbrugge, mengunjungi Manado. Kunjungan ini menghasilkan sebuah perjanjian pada 10 Januari di Benteng Belanda di Manado (sekarang Pasar Jengky) dengan kepala lokal Minahasa. Minahasa diwakili oleh Supit, Lontoh and Paat. Perjanjian tersebut akhirnya kemudian mengalami sedikit berubahan beberapa kali yang memutlakkan Belanda mengakui keberadaan masyarakat Minahasa dan menempatkan Minahasa setara dengan Belanda.
Pada waktu itu dimana sudah ada pawai-pawai menurut adat (kebiasaan) Minahasa. Dalam laporannya pada tahun 1679 Robertus Padtbrugge mengatakan tentang Minahasa bahwa Tentara Tradisional Minahasa semuanya memakai gelang tembaga yang bunyinya gemerincing, dengan kalung yang terbuat dari karang, dan terdapat bunyi drum yang keras.
1689
Sebuah persekongkolan untuk membunuh orang Belanda di Batavia direncanakan oleh Kapten Jonker, seorang muslim dan pemimpin Ambon di pelayanan kompeni, dengan bantuan dari Amangkurat II.
Setelah hal tersebut diketahui Jonger dibunuh ketika sedang melarikan diri dan pengikut-pengikutnya menemukan sebuah tempat berlindung di Kartasura. Sebagai pemimpin VOC Ambon, Jonker digantikan oleh sepupunya yang kristen Zacharias Bintang.
1693
Minahasa memenangkan sebuah pertarungan mutlak melawan Bolaant di sebelah selatan. Pengaruh Belanda bertambah besar ketika orang Minahasa menerima Tuhan dan barang-barang Eropa.
1769
Prancis berhasil mencuri tanaman cengkeh dari Ambon dan mengangkutnya ke Mauritius dan daerah koloni lainnya.
1700-1800
Antara tahun 1700 dan 1800, Belanda sudah berperan sebagai “Tuan Besar” di Minahasa. Mereka mengangkat seorang raja Minahasa dengan jabatan Komandan Kapiten Urbanus Puluwang. selanjutnya dia disebut “Bapa Orang Minahasa”. Dia kemudian mengatur perdagangan beras serta pajak dan memecat Kepala walak antara lain Loho (Tomohon ) Agus Karinda (Negeri Baru). Dia juga menyewa serdadu Kora-Kora Ternate untuk membakar Negeri Atep Kapataran di wilayah pemimpin Tondano, Gerrit Wuisang.
1760
Masyarakat Tondano sudah tidak mau lagi hadir dalam pertemuan-pertemuan dengan Belanda di Manado dan dari Resident Dur, masyarakat Tondano tersebut paling sengit melawan Belanda dan juga tidak mengindahkan aturan-aturan mengenai pajak, wajib militer dan sistim perdagangan beras yang dikembangkan pihak Belanda.
1780
Ekspedisi militer ke Ternate dimana Pengeran Nuku dari Tidore sudah memberontak terhadap peraturan saudara laki-lakinya, sang sultan, yang melihat uang VOC untuk perusakan pohon cengkeh dari pada untuk kepentingan orang-orangnya sendiri.
1796
Inggris nenempati Padan dan Ambon. Benteng VOC di Ternate menolak menyerah.
|