Home >>Sejarah Minahasa >>Sejarah Garis Waktu Sejarah Garis WaktuDisusun oleh: Roderick C. Wahr 1600 Belanda membantu kepala suku Maluku untuk mengeluarkan orang Portugis, yang pengaruhnya di negara ini mereka peroleh, dan dipertahankan terus-menerus sejak itu. 1602 Pada 20 Maret 1602 'Staten Generaal' Belanda mengeluarkan sebuah monopoli perdagangan dan pengapalan di Asia selama 21 tahun lamanya sampai 'Verenigde Oost-Indische Compagnie', VOC. Paten ini di perpanjang di tahun-tahun yang akan datang. Perserikatan Jendral juga memperbolehkan VOC membangun benteng dan bertransaksi sebanyak mungkin kerugian kepentingan Portugis dan Spanyol di Asia. Perusahaan tersebut mempunyai enam bagian atau "kamar" di Belanda, di kota Amsterdam, Middelburg, Rotterdam, Delft, Hoorn dan Enkhuizen. Kamar-kamar tersebut dilengkapi kapal masing-masing, yang manajemen-nya ditentukan oleh 'Heren Zeventien', sebuah komisi yang terdiri dari pimpinan-pimpinan delegasi dari enam Kamar, yang secara bergiliran bertemu di Amsterdam dan Middelburg. Aset perusahaan (6.5 juta guilders) dikumpulkan oleh pemegang saham yang menerima deviden (keuntungan saham) menurut pembagian keuntungan dari kepulangan kargo-kargo dari Asia ke Republik.
1603 Armada pertama VOC sebanyak dua belas kapal yang bersenjata berat ditempatkan di bawah komando Steven van der Haghen. Salah satu tugasnya adalah menyerang bangunan Portugis di Goa dan Mozambik. VOC mendirikan sebuah pos perdagangan di Bantam, yang mana sudah pernah di lakukan oleh Inggris setahun sebelumnya. Spanyol membangun sebuah benteng di Maluku. Penguasa-penguasa Manado ingin menyingkirkan para penyerbu Spanyol. Mereka meminta pertolongan dari VOC Belanda di Ternate. 
|  | | Pohon Cengkeh | | 1605 Steven van der Haghen mengeluarkan orang Portugis dari Maluku dan membaptiskan benteng Leitimor menjadi Fort Victoria. Dia merancang sebuah kontrak dengan penduduk Hitu untuk persediaan cengkeh. Sedangkan dengan Banda sebuah perjanjiaan dibuat untuk persediaan pala.
1606 Orang Spanyol dari Filipina menyerbu Benteng Tidor yang ditinggalkan oleh orang Portugis di Halmaheira. 1607 Kapal-kapal VOC untuk pertama kali memasuki bandar Manado untuk membeli beras dan bahan pangan lainnya yang diperlukan sebagai bekal bagi perjalanan menuju daratan Cina. Namun mereka tidak berhasil karena larangan Spanyol yang telah menguasai niaga Sulawesi-Utara.Gubernur Cornelis Mattelief dari Batavia mengutus Jan Lodewijk Rossingeyn menjalin hubungan niaga, namun ditolak oleh Spanyol. VOC menjalin hubungan persahabatan dengan para pemuka kesultanan Maluku pada tahun 1607 yang dendam terhadap Spanyol. Hal ini terjadi karena Spanyol menangkap Sultan Sahid Berkat dan mengasingkannya ke Manila. Pihak kesultanan Ternate mendekati Belanda sebagai pengimbang menghadapi kekuatan Spanyol. 1610
 |  | | | Pala | Usaha pendekatan dengan Minahasa dilanjutkan ketika pimpinan VOC di Batavia mengutusKapten Verhoeff yang juga mengalami kegagalan. Verhoeff memberi laporan lengkap mengenaipotensi yang dimiliki Minahasa hingga menarik minat Batavia untuk menguasaiSulawesi Utara bagi kepentingan keamanan VOC di Maluku. Jaminan keamanan dari VOC diperoleh Ternate ketika pangerah Sahid, Sultan Modafar diangkat menduduki singgasana kepemimpinan pada 1610 tanpa gangguan Spanyol.1614 Pihak VOC mulai mengkonsolidir sebuah angkatan perang di Ambon untuk merebut Laut Sulawesi dari orang Sepanyol. Pertempuran singkat Spanyol-Belanda berkecamuk pada bulan Agustus dikepulauan Siau, yang mana dimenangkan oleh Belanda. Setelah kekalahan di Siau, Spanyol memusatkan kekuatannya di Manado. Untuk menghadapi serbuan Belanda mereka membangun sebuah benteng dipesisir kota itu yang berhadapan dengan pulau Manado Tua. 1617 Steven van der Haghen ditunjuk menjadi gubernur Ambon.
|